Pada tanggal 19-20 April yang lalu, Badan Khusus Petani Perempuan Serikat Petani Sumatera Utara (BKPP SPSU) mengadakan pertemuan petani perempuan yang diisi dengan kegiatan seminar, lokakarya dan aksi massa ke Pemkab Asahan, DPRD Asahan serta Polres Asahan. Kegiatan tersebut dihadiri oleh massa petani perempuan SPSU serta utusan petani perempuan dari Serikat-serikat petani dari provinsi lain seperti PERMATA (Aceh), PERTAJAM (Jambi) dan SPSB (Sumatera Barat). Kegiatan tersebut dilaksanakan untuk memperingati hari perjuangan petani internasional, disamping melakukan lokakarya penguatan petani perempuan. Rangkaian kegiatan yang dimulai pada tanggal 19 April, dibuka dengan seminar nasional yang dihadiri oleh undangan dari Pemkab Asahan, Polres Asahan serta lembaga lain di Kabupaten Asahan. Seminar tersebut diisi oleh Harmona Daulay, S.Sos, M.Si (Pakar gender dan sosiolog FISIP USU), Irma Yanni (La Via Campesina/ Gerakan Petani Internasional), Dra. Hj. Rukiah Sinambela, MM (Kepala Bagian Pemberdayaan Perempuan Kabupaten Asahan), serta Wilda Sri Julieni (Deputi Penguatan Petani Poerempuan Federasi Serikat Petani Indonesia).
Kegiatan tersebut dilanjutkan dengan rangkaian lokakarya penguatan petani perempuan. Menurut Koordinator Badan Khusus Petani Perempuan SPSU, Yuliana, “kegiatan ini bertujuan menyusun strategi bersama penguatan petani perempuan untuk wilayah Sumatera Utara, Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat dan Jambi. Menurutnya kondisi petani perempuan saat ini masih diposisikan sebagai objek tindak kekerasan dan diskriminasi dalam berbagai ikebijakan yang diambil oleh pemerintah. Selain kondisi petani perempuan yang masih lemah perlu diperkuat dengan melakukan berbagai bentuk penyadaran dan pendidikan, agar mampu menyuarakan hak-hak kaum petani perempuan”. Kegiatan ini dipusatkan di Kabupaten Asahan dengan pertimbangan bahwa selama ini konflik agraria yang dialami oleh OTL Maju Bersatu dan OTL Saur Matua Ina Tani (Anggota SPSU) yang mayoritas petani perempuan dengan perusahaan perkebunan P.T. Bakrie Sumatera Plantation dan P.T. Jaya Baru Pratama sering berakhir dengan insiden tindak kekerasan yang dilakukan oleh perusahaan maupun puluhan oknum dari kepolisian polres Asahan. Upaya-upaya untuk mendesak penuntasan kasus-kasus kekerasan dan perampasan lahan tersebut selama belum mendapatkan respon yang serius dari pemerintahan kabupaten Asahan.
Pada hari kedua, kegiatan dilakukan dengan melakukan aksi massa dan delegasi ke tiga tempat secara bersamaan. Aksi massa ke Pemerintahan kabupaten Asahan, delegasi ke DPRD Asahan serta delegasi ke Polres Asahan. Aksi massa ke Kantor Bupati Asahan tidak hanya diikuti oleh peserta lokakarya, tetapi juga mendatangkan ratusan massa petani perempuan SPSU yang berasal dari Mandoge. Aksi tersebut bertujuan mendesak jajaran pemerintahan di Kabupaten Asahan untuk segera menuntaskan kasus-kasus tindak kekerasan terhadap petani perempuan yang mempertahankan tanahnya yang dirampas oleh perusahaan perkebunan, serta menuntuk hak-hak petani perempuan atas sumber-sumber agraria, ekonomi, pendidikan dan kesehatan. Menurut Zubaidah selakuk koordinator lapangan, “Aksi ini bertujuan mendesak pemerintahan di wilayah kabupaten Asahan agar lebih konsisten dalam menuntaskan permasalahan rakyat, khususnya petani perempuan. Di wilayah kabupaten Asahan, tindak kekerasan dan penganiayaan yang terjadi terhadap petani perempuan yang mempertahankan hak-haknya sudah terjadi berulang kali. Nyatanya hingga hari ini, tindak kekerasan masih saja terjadi tanpa ada respon sedikitpun dari Pemkab, Polres maupun DPRD Asahan”.
Zubaidah juga menambahkan bahwa dari hasil delegasi ke tiga tempat berbeda yakni, Pemkab Asahan, Polres Asahan dan DPRD Asahan, tidak mendapatkan respon yang memuaskan. Seperti biasanya, yang didapatkan hanya janji-janji dan sikap tidak bertanggung jawab atas tindak kekerasan yang terjadi terhadap petani perempuan di lahan konflik. Aksi massa di depan Kantor Bupati Asahan sempat memacetkan arus kendaraan yang melewati jalan lintas sumatera, karena ratusan petani perempuan memblokir jalan akibat kekesalan mereka yang sudah menggung. Massa membuka kembali jalan setelah dilakukan pendekatan persuasif oleh aparat keamanan. Mereka mengancam akan terus melakukan aksi massa dan memperbesar jumlah massa, jika tuntutan para petani perempuan ini tidak dihiraukan kembali. Mereka menyatakan, meski mereka hanya kaum perempuan tetapi mereka tidak akan pernah menyerah untuk memperjuangkan hak-hak petani perempuan.